Kisah Tentang Ulat Dan Kupu-Kupu

in Bebas Utang/sharing/Tips by

Pada suatu hari yang terik dan panas di sebuah hutan pada sebuah pohon yang rindang, hijau dan nyaman hiduplah beberapa ekor ulat dengan damai. Ketenangan dan kedamaian itu mereka miliki dan rasakan karena begitu berlimpahnya makanan berupa daun-daun lebat yang hijau begitu berlimpah. Mereka mendapatkan makanan dengan mudah dan tanpa bersusah payah. Daun segar hijau berada di dekat mereka, tanpa harus jalan jauh-jauh ke ujung-ujung dahan pohon untuk mendapatkanya. Pertumbuhan tunas daun-daun baru lebih cepat dari jumlah dan pertambahan ulat-ulat yang ada di pohon itu. Sehingga seperti tidak akan pernah habis dimakan.

Begitu tenang, damai dan berlimpahnya daun sumber makanan mereka itu menarik ulat-ulat lain untuk datang, tinggal dan mencari makan di pohon yang sama.

Sampai tibalah suatu hari…

Semakin hari semakin bertambah banyak ulat-ulat yang datang kepohon itu, berkembang biak, beranak pinak tambah terus betambah semakin banyak. Sehingga daun-daun hijau di pohon itu semakin lama-semakin berkurang. Kini pertumbuhan daun baru a tidak lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah ulat yang memakanya. Sehingga semakin hari pohon itu semakin berkurang jumlah daunya. Semakin sedikit semakin meranggas daun-daunya semakin menipis habis.

Jika suatu hari nanti daun-daunya habis bis tak tersisa lantas akan makan apa ulat-ulat itu? Jika semuanya meranggas dan gundul tidak ada yang bisa dimakan lagi, bagaimana ulat-ulat itu mendapatkan makananya? Mereka harus pindah pohon, mencari pohon baru…ya…mereka harus mencari pohon baru, atau mati kelaparan jika bertahan di pohon itu.

Mereka harus pindah pohon, mencari pohon baru…ya…mereka harus mencari pohon baru, atau mati kelaparan jika bertahan di pohon itu.

Bagaimana caranya mereka mencari pohon baru?

Ada 2 cara untuk menemukan pohon baru.

Pertama, mereka merayap turun dari pohon sampai ke tanah kemudian merayap lagi ke arah pohon baru yang masih banyak daunnya. Solusi yang sangat bagus dan mudah untuk dilakukan, apakah benar kenyataanya demikian?

Berapa jauh jaraknya bagi seeokor ulat untuk merayap dari satu pohon ke pohon lain?

Bisa dibayangkan cukup jauh dan memerlukan energi? Bisa berjam-jam bahkan satu hari penuh dibutuhkan untuk mencapai pohon baru, apalagi kalau pohonya jarang.

Apakah sisa tenaga dan energinya cukup untuk mencapai pohon baru? Jika tidak cukup maka akan mati kelaparan atau mati lemas kehabisan energi.

Apakah tidak ada risiko lain selain itu?

Ada kemungkinan pas merayap di batang pohon yang gundul dimangsa hewan lain, burung, ayam serangga besar dan sebagainya.

Risiko kepanasan terik matahari siang yang “membakarnya” sampai mati.

Kalau sampai ditanah berisiko keinjak manusia, hewan lain seperti kuda, sapi, kerbau dan sebagainya.

Jika ketemu anak-anak atau wanita sebagian besar jijik, kemudian mengusir bahkan membunuhnya. Solusi yang sangat sulit ternyata dan berisiko sangat besar. Namun kenytaanya sebagian besar ulat memilih resiko ini, ada yang berhasil memang tapi lebih banyak yang gagal, mati lemas kehabisan energi dan atau dimangsa hewan lain serta terinjak manusia atau hewan besar.

Beberapa ulat mulai menyadari bahwa daun-daun di pohon itu akan habis pada suatu hari maka sebagian kecil mereka yang sadar ini memutuskan untuk berubah diri.

Apa solusi yang kedua?

Solusi kedua adalah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, sehingga setelah jadi kupu-kupu bisa terbang jauh dalam waktu lebih singkat bisa menemukan sumber makanan baru yang lebih banyak dan lebih enak. Hidup lebih makmur karena begitu banyak pilihan makananya. Mencapai pohon baru dalam hitungan detik dibanding ulat yang perlu waktu berjam-jam bahkan 1 hari penuh. Bisa terbang kesana kemari, melihat-lihat dari atas yang tentunya pemandangannya lebih indah dari pada melihat dari bawah. Berwarna dan berujud indah, kalau ketemu wanita dan anak-anak serta manusia mendapatkan pujian. Dikejar-kejar untuk dipelihara saking indah dan lucunya. Lebih disukai dan lebih sering menjadi obyek foto. Matipun banyak yang diawetkan saking indahnya. Lebih banyak dijadikan simbol kebaikan.

Namun apakah yang harus dilakukan oleh seekor ulat agar bisa menjadi seekor kupu-kupu? “Berpuasa”… bertapa melewati proses kepompong terlebih dahulu dengan menahan diri tidak melakukan hal yang biasa, “makan dan minum”. Menahan diri, belajar dan mengembangkan diri di dalam kepompong yang sempit, gelap dan pengap selama beberapa minggu. Jika proses ini dilewati maka seekor ulat yang hanya bisa merayap, melata dan berujud tidak indah -bahkan menjijikan bagi beberapa orang itu- akan berubah dan berkembang menjadi seekor kupu-kupu yang indah, menawan dan cantik. Tidak hanya itu… tidak hanya bisa merayap tapi bisa terbang gesit kesana kemari…bisa menempuh jarak yang jauh dalam waktu yang singkat dibandingkan seekor ulat.

Ternyata hanya sedikit ulat yang menyadari hal ini dan berani melakukan metamorfosis, hampir semua ulat yang melakukan ini berhasil menjadi kupu-kupu dan terbang jauh dengan mudah menemukan apa yang dia inginkan, makanan dan hinggap di bunga-bunga indah penuh sari madu alami. Hidup bebas bisa terbang tinggi, dan tinggi bebas mengembara sesuka hati.

Demikianlah mirip halnya jika seseorang bekerja di suatu tempat, sering sekali mengeluh dengan semakin sulitnya pekerjaannya. Merasakan lain dari pertama kali dia mulai bekerja dulu. Semakin lama dirasanya pekerjaan semakin berat dan sulit. Sedangkan pendapatanya naik tidak significant, semakin lama semakin terasa sedikit sekali pendapatan yang tersisa dibanding dulu dulu masih lumayan beberapa bisa ditabung.

Sering bilang “little-little to me, lettle-little to me, salary no up up”. Kalau ada pekerjaan baru, sedikit-sedikit ke saya, sedikit ke saya, gaji gak naik-naik.

little-little to me, lettle-little to me, salary no up up

Sudah berusahan melamar dan mencari pekerjaan baru diperusahaan lain bahkan perusahaan llain di bidang industri yang berbeda, sudah 1 tahun gak dapat-dapat. Sedangkan pendapatan sebulan sudah habis tak tersisa kini tidak ada sedikitpun yang bisa ditabung. Jika ada keperluan mendadak, misalnya ada anggota keluarga yang sakit, atau motor/mobil rusak, pompa air ngadar, genteng bocor perlu renovasi, terpaksa harus berutang. Utang karena terpaksa. Kartu kredit dan KTA yang berbunga tinggilah pelarianya. Sehingga semakin lama utang semakin banyak tak terkendali dan tak terlunasi.

Kemudian, Apa solusinya?

Sebelum terlanjur, untuk mencegah itu semua, berikut ini solusi yang saya sarankan.

Jika sudah mulai dirasakan semakin lama hidup semakin sulit bukan semakin mudah, itu saatnya Anda harus berubah, segeralah berubah!!!. Itu bukan berarti bahwa Tuhan tidak menyediakan rezeki atau mengurangi persediaan rezeki. Tuhan selalu menyiapkan rezeki yang berlimpah setiap saat setiap waktu. Seperti air samudra yang selalu ada dan dalam jumlah berlimpah. Seperti itulah yang disediakan Tuhan. Rezeki selalu tercurah seperti air hujan yang menguap dari samudra, turun deras seperti air hujan lebat tercurah kepada SEMUA orang di muka bumi ini.

Bagi siapa saja bisa mengambil rezeki itu. Syaratnya hanya memiliki dan membawa wadah rezeki masing-masing. Jumlah yang bisa ditampung seseorang sesuai dengan kapasitas wadah tempat penampung air (rezeki) samudra itu. Setiap orang bisa “mengambil” air samudra itu dan besar dan banyaknya tentu tergantung dari seberapa besar kapasitas wadah yang dimiliki. Semakin besar wadah yang dimiliki seseorang, semakin banyak air yang bisa diambil. Jika wadahnya hanya sebesar gelas, maka hanya bisa menampung air segelas. Jika wadahnya sebesar gayung maka mampu menampung segayung. Jika sebesar ember ya segitulah yang bisa ditampung. Sebesar apakah kapasitas “WADAH REZEKI” yang Anda miliki?

Jika hidup Anda semakin sulit bukan semakin mudah itu artinya wadah tempat menampung air rezeki Anda hanya kecil.

Berubah, manambah kapasitas wadah adalah solusinya. Kapastias wadah rezeki itu bernama pengetahuan dan ketrampilan. Jika hidup semakin sulit, itulah saatnya menambah giat belajar dan kuasi ketrampilan-ketrampilan baru.

Learn Before you Earn – Jim Rohn.

Memang tidak mudah, perlu perjuangan dan menahan diri untuk dapat menguasai skill baru. Seperti bertapa, menahan diri dari “kesenangan-kesenangan” untuk belajar dan terus belajar mengembangkan diri. Bukankah mirip seperti ulat yang “bertapa” mau menjadi kepompong untuk berubah menjadi kupu-kupu?. Dengan bermetamorfisis bisa berubah diri menguasai pengetahuan dan ketrampilan baru, maka keadaan dan perasaan hidup semakin sulit bisa dihindari. Berubahlah, kembangkanlah diri sebelum terlambat.

Banyaklah belajar, membaca buku dan diskusi dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan sikap positif.

The World Is Changing, If You Are Not Change, Will Left Behind

Dan kalau sudah terlanjur sulit bahkan sudah banyak berutang apa tindakan yang harus dilakukan?

Pertanyaan yang bagus, kalau sudah terlanjur silakan baca buku:
“From Debt To Millionaire”. Fromdebttomillionaire.id

Karena tidak cukup ditulis di artikel pendek ini, solusinya sudah harus komprehensif dan perlu 150 halaman A4 untuk menjelaskanya.

Selamat belajar dan terus mengembangkan diri Anda.

Semoga Selalu Sukses dan Berbahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*